Bisnis Mahasiswa Indonesia di Kairo; Yang Penting Cukup

Sumber foto: nasional.republika.co.id

Mahasiswa Indonesia di Mesir atau yang lebih dikenal sebagai Masisir terbilang cukup banyak dibanding mahasiswa dari negara lainnya. Berdasarkan data Kedutaan Besar Republik Indonesia Kairo, jumlah pelajar Indonesia saat ini mencapai sekitar 2500 orang, dan 90 persennya adalah mahasiswa universitas al-Azhar. Selebihnya, mereka kuliah di berbagai universitas di Mesir, seperti Kairo University, Arab League University, American Open University dan universitas lainnya.

Dulunya mahasiswa asing yang kuliah di Al-Azhar, termasuk dari Indonesia tersebar di beberapa kota seperti Tanta, Alexandria, Mansoura, Damanhur dan kota lainnya. Namun Sejak tahun 2010, kebijakan Al-Azhar hanya menempatkan mahasiswa asing di kota Kairo.

Mahasiswa Indonesia biasanya tinggal berdekatan satu dengan lainnya. Kebanyakan mereka ngontrak rumah di Hay Asyir (Distrik 10), Kairo Timur. Sehingga kawasan ini diberi nama Hay Asyir ini “kampung Indonesia”,  atau “kecamatan Indonesia”.

Menurut Fitrah Alfaizi salah seorang mahaiswa asal Indonesia yang tinggal di Kairo Timur menjelaskan, situasi berkoloni inilah yang akhirnya menumbuhkan naluri bisnis mahasiswa. Mereka berpikir bisa hidup dari dan untuk mereka sendiri. Didukung oleh perizinan dari pemerintah Kairo yang relatif mudah.

“Akhirnya home industri menjamur, seperti tempe, tahu, kerupuk, dan aneka makanan ringan lainnya sangat mudah didapatkan di Kairo, dan semua itu yang jualan pelajar asal Indonesia,” jelas Faiz.

Faiz menambahkan, di Kiaro harga pangan relative murah dan mudah didapatkan. Hal ini juga yang mendorong Masisir berkreasi mendirikan berbagai rumah makan khas Indonesia.

“Tercatat lebih dari 30 rumah makan khas Indonesia berdiri di gang-gang kota Kairo, mulai dari masakan padang, sate madura, sampai empek-empek palembang,” jelas Faiz.

Di Kairo, pindah rumah kontrakan adalah hal sangat biasa. Setahun pindah, setengah tahun pindah, bahkan ada yang dua bulan sekali pindah dengan berbagai alasan. Bisa jadi si tuan rumah keberatan penyewa berjualan, atau bisa juga mendapatkan kontrakan yang lebih baik.

Karena situasi ini cenderung mengganggu stabilitas pelanggan,  mahasiswa yang hidup dengan berdagang berpikir untuk menyewa food truck untuk menjalankan bisnis mereka. Pilihan ini sangat menguntungkan bagi pedagang.

“Orang bilang segala jenis bisnis di Masisir tersedia, sampai segala macam jasa juga dapat diakses dengan mudahnya; londry, pijat, jual beli tiket, fotografer, pakaian dan lain sebagainya. Itu semua dilakukan oleh mahasiswa dan untuk mahasiswa,” tutup Alfaizi.( FA)

Yuk kita simak seperti apa kuadran bisnis di mahasiswa Masisir

Dalam bisnis, Masisir terbagi menjadi  4 bagian:

Pertama: employee, yaitu mahasiswa yang bekerja sebagai karyawan kepada mahasiswa lain yang memiliki modal, seperti bekerja di rumah makan khas Indonesia, di rental mobil, loundry dan lain sebagainya. Biasanya bisnis jenis ini dipilih dengan partime agar tidak mengganggu jadwal kuliah.

Kedua: self employee, yaitu mahasiswa yang bekerja dengan ketrampilannya, seperti menjadi guide,  montir, tukang pijat, bekam, ruqyah dan lain sebagainya.

Ketiga: business, yaitu mahasiswa yang menciptakan lapangan kerja untuk dirinya dan orang lain. Mereka membuat rumah makan, usaha tahu tempe, kerupuk, toko loundry dan lain sebagainya. Dari bisnis yang mereka buat banyak pelajar yang mendapat kesempatan kerja untuk menambah uang saku.

Keempat: investor, yaitu mahasiswa yang memiliki modal besar. Biasanya mereka diberi modal oleh orang tuanya untuk belajar usaha di Kairo. Mereka membeli “saham” rumah makan khas Indonesia, rental mobil dan usaha lainnya dengan standar bisnis yang lebih luas cakupannya.

Pada dasarnya, bisnis Masisir di Kairo adalah dari, oleh dan untuk para mahasiswa Indonesia itu sendiri. Jarang sekali bisnis-bisnis tersebut bersinggungan dengan warga non Indonesia. Kebanyakan dari mereka menjalaninya sebagai sampingan saja, buka sebagai tujuan. Karena memang, tujuan utama para mahasiswa datang ke Mesir bukanlah untuk  berbisnis, tapi untuk belajar. Bagi mereka bukan kekayaan yang menjadi tujuan, tapi yang penting bisa cukup kebutuhan sehari-harinya, karena memang tidak semuanya mendapatkan beasiswa, dan tidak semuanya masih dibiayai oleh orang tua.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top