Mahasiswi Indonesia di Korea Temukan Obat Alami Atasi Gigi Sensitif

Gigi Sensitif

Sumber foto: kbriseoul.kr

Seoul, Masalah gigi sensitif atau dentine sensitivity sangat mengganggu kesehatan gigi. Gigi sensitif terjadi karena proses penipisan pada lapisan enamel/email yang merupakan lapisan terluar gigi demikian dijelaskan Ekavianty Prajatelistia, mahasiswi S-3 asal Indonesia di Pohang University of Science and Engineering (POSTECH), Korea Selatan.

Dentin berada pada lapisan tengah gigi yang terdiri dari tabung-tabung kecil (tubula) terhubung dengan saraf dan dipenuhi dengan cairan menjadi terbuka. Rangsangan dari makanan/minuman yang panas, dingin, ataupun asam dapat menyebabkan cairan tersebut bergerak apabila dentin tidak terlindungi dengan baik.

“Pergerakan cairan inilah yang menyebabkan ujung saraf bereaksi sehingga menghasilkan rasa ngilu pada gigi. Diperlukan proses remineralisasi atau menumbuhkan kembali mineral pada gigi sehingga dapat menutupi pori-pori dentin yang terbuka pada gigi sensitive,” ungkap wanita yang akrab disapa Eka ini.

Saat ini, banyak produk yang dijual sebagai obat untuk mengatasi rasa ngilu pada gigi sensitif. Produk-produk tersebut menggunakan bahan dari oxalate, hydroxyethyl methacrylate, hydroxyapatite, dan glutaraldehyde.

Tingginya bahan kimia aktif berkonsentrasi tinggi serta adanya indikasi dapat menyebabkan keracunan bila dikonsumsi melampaui batas penggunaan. Situasi inilah yang menjadi alasan Eka untuk berupaya untuk menemukan obat alami yang tidak berbahaya sebagai alternatif produk-produk yang beredar di pasaran.

“Dengan tekun akhirnya saya berhasil menemukan obat alami untuk mengatasi gigi sensitif yang telah terdaftar dalam Korean Patent,” pengakuan Eka saat dihubungi akhr pekan 5 March 2017.

Menurutnya penemuan ini terinspirasi dari tunicate, hewan laut yang cukup populer dihidangkan di sajian masakan Korea. Selain nikmat untuk disantap, istimewanya, hewan laut ini memiliki kemampuan self-healing (menyembuhkan diri) dari luka.

Kandungan TOPA atau 3,4,5-trihydroxyphenylalanine yang terdapat pada tunicate yang bersenyawa dengan vanadium yang terdapat pada darah tunicate, sehingga membentuk kompleks yang dapat menyembuhkan luka pada tubuh tunicate.

Sejalan dengan hal ini,  Eka yang tergabung dalam kelompok Laboratory for Biomimetic and Environmental Materials (LBEM) di POSTECH, Korea Selatan, menemukan bahwa Gallic acid, yang juga merupakan alternatif dari TOPA dapat juga membentuk senyawa kompleks dengan ion logam yang dapat digunakan untuk regenerasi mineral yang hilang pada gigi dan menutup tubula pada dentin.

“Gallic acid ini banyak terdapat pada buah-buahan, sayuran, dan teh sehingga murah dan mudah didapat. Gallic acid sangat ampuh menutup pori-pori dentin dalam waktu 4 menit, hal ini karena kandungan ion logam yang terdapat didalamnya. Lapisan baru yang terbentuk tidak merusak warna gigi,”

Research Tunicate-Inspired Gallic Acid/Metal Ion Complex for Instant and Efficient Treatment of Dentin Hypersensitivity dikerjakan Eka sekitar 2 tahun bersama Prof. Hwang Dong Soo ini telah terbit dalam jurnal Advanced Healthcare Materials.

“Semoga hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu pilihan obat gigi sensitif yang alami,” tutup Eka.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top