Menelusuri Sejarah Gua Ashabul Kahfi di Amman, Yordania

Gua Ashabul Kahfi di Amman

Oleh: Maryam Hakim

Indonesiantoday: Jordan – Ashabul Kahfi adalah julukan bagi para penghuni makam yang berada dalam Gua Ashabul Kahfi. Diperkirakan pada tahun 250 AD, terdapat tujuh pemuda yang dipaksa untuk keluar dari agama kepercayaan mereka dan diancam dengan berbagai macam siksaan oleh penguasa setempat.

Dalam Al-Qur’an dikisahkan tujuh pemuda tersebut untuk mempertahankan agamanya mecoba melakukan perlawanan dengan melarikan diri dan bersembunyi dalam gua dengan membawa seekor anjing peliharaannya.

Selanjutnya dalam Al-Qur’an juga dijelaskan, tujuh pemuda tersebut terlelap karena letih menempuh perjalan jauh untuk menyelamatkan diri. Tanpa diduga merekapun telah terlelap selama309 tahun lamanya.

Saat terbangun mereka menyangka baru tertidur dalam beberapa jam saja, namun alangkah terkejutnya tatkala salah seorang dari mereka kembali ke kota untuk membeli makanan dan menyaksikan keadaan kota yang telah berubah, bahkan kepercayaan mereka yang dulunya dintentang telah menjadi agama resmi di seluruh penjuru kota.

Pada akhirnya setelah mereka menyaksikan kuasa Allah dengan keyakinan mereka mempertahankan agama dan kepercayaannya, dan Sang Penciptapun mewafatkan mereka.

Bagi para pemeluk Islam, Ashabul Kahfi tentu tidaklah asing. Setiap pekan di hari Jumat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk membaca Surah Al-Kahfi, surah yang memuat kisah tentang Ashabul Kahfi.

Kisah Ashabul Kahfi ternyata juga dipercaya oleh para penganut agama Kristen. Gua Ashabul Kahfi juga bisa ditemukan di Ephesus, Turki dan Damaskus, Syria. Namun menurut pakar sejarah, arkeolog dan ulama klasik maupun kontemporer, yang paling diyakini keabsahan dan kemiripannya dengan yang tertulis dalam kitab suci adalah gua yang berada di Al Raqim, Jordan.

Abdullah seorang tour-guide yang bertugas di Gua Ashabul Kahfi Jordan menjelaskan, tujuh makam para pemuda yang tertidur dalam gua dapat disaksikan dengan sangat jelas begitu memasuki pintu gua.

Abdullah menambahkan, bahkan salah satu makam tersebut berdinding kaca sehingga terlihat tulang-belulang yang berusia ribuan tahun. Terdapat pula lemari berisikan alat-alat makan zaman dahulu yang dipercaya sebagai barang-barang milik para penghuni makam tersebut.

“Walaupun telah berusia ribuan tahun, semua yang berada dalam gua ini dapat dijamin keasliannya, inilah yang akhirnya menjadikan alasan Gua Ashabul Kahfi sebagai salah satu tempat wisata sejarah yang tidak pernah sepi pengunjung,” jelas Abdullah.

Di Jordan lokasi Gua Ashabul Kahfi berjarak sekitar 10 km dari ibukota Amman. Sejak 2200 tahun yang lalu, Gua Ashabul Kahfi atau yang biasa disebut The Cave of Seven Sleepers ini mulai dilestarikan oleh Emperium Rumawi.

“Pada masa kepemimpinan Islam, Sultan Saladin melakukan pemugaran dan secara terus menerus hingga sekarang, bisa kita saksikan, Gua Ashabul Kahfi tidak pernah sepi dari pengunjung, terutama dari mancanegara.” lanjut Abdullah yang menguasai berbagai macam bahasa, termasuk bahasa Indonesia ini.

Bagi Zaima Alima Gunawan, mahasiswi University of Jordan, mengunjungi Gua Ashabul Kahfi menuturkan, berkunjung ke temapat bersejarah ini menjadi sebuah kebahagiaan yang bisa dirasakan oleh penikmat sejarah.

“Saya dengar ada dua Gua Ashabul Kahfi lainnya di Turki dan Syria, dan gua yang berada di Jordan yang paling serupa dengan sejarah versi Islam. Seperti yang saya lihat, peninggalan-peninggalan yang ada di sini juga diklaim asli. Menyenangkan sekali ketika saya akhirnya bisa menyaksikan langsung apa yang selama ini hanya saya ketahui lewat tulisan,” ungkapnya.

Hal serupa diiyakan oleh Ade Nurakhmat, mahasiswa yang juga sedang menempuh pendidikannya di University of Jordan menjelaskan, mengunjungi situs sejarah seperti Gua Ashabul Kahfi, menjadi perjalanan spiritual yang sangat berkesan untuk diambil hikmahnya.

“Menyaksiakan dengan mata sendiri kisah Ashabul Kahfi merupakan perngalaman spritual yang sangat mengesankan, tTidak hanya tahu lewat tulisan dan gambar, tapi juga bisa melihat sendiripeninggalannya,” ungkap Ade.

Dari segi fasilitas, Gua Ashabul Kahfi dinilai berbeda dari situs-situs sejarah lainnya. Selain menyediakan masjid yang nyaman dan kamar mandi yang bersih, terdapat lorong-lorong khusus penyangga difabel dibeberapa sudut. Tanaman-tanaman hijau yang dibentuk menyerupai nama-nama Allah juga menjadi objek menarik untuk diabadikan dalam bentuk foto dan menyegarkan mata di tengah-tengah gurun pasir Timur Tengah.

Dikarenakan tanahnya yang cukup terjal, dianjurkan bagi para pengunjung untuk memakai sepatu yang nyaman digunakan saat menempuh perjalanan menuju gua yang penuh dengan bebatuan.

“Terutama untuk wanita, diharap mengenakan pakaian yang sopan seperti gamis dan kerudung. Walaupun pihak setempat menyediakan jubah untuk pengunjung yang tidak berhijab, menurut saya lebih baik memakai pakaian yang kita bawa sendiri daripada mengenakan pakaian umum. Dan juga, jika berkunjung saat musim panas, sebaiknya jangan lupa membawa topi dan kacamata.” Tegas Zaima Alima, ketika ditanya seputar tips untuk mengunjungi Gua Ashabul Kahfi.

Dari ibukota Jordan, Amman, perjalanan menuju Gua Ashabul Kahfi, Al Raqim biasanya memakan waktu berkisar kurang dari satu jam. Bagi wisatawan yang menggunakan transportasi umum bisa menaiki taksi yang bertarif sekitar 5 JOD. Namun dikarenakan Jordan memang terkenal kaya akan situs sejarah, terdapat banyak jasa tour, travel dan guide yang menawarkan beraneka paket wisata ke Gua Ashabul Kahfi dengan beragam harga.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top