Seni Arsitektur Charminar Sebagai Wujud Harmonisasi Sosial

Oleh: Kartika Indah Permata

Liputan IndiaSeni arsitektur India melambangkan negara sebagai wilayah tertua dimana peradaban manusia dimulai. Hyderabad menjadi wilayah dengan jejak historis yang menarik di antara negara-negara bagian lainnya di India, sebuah tempat berkembangnya seni dan budaya dengan pesat dari masa ke masa.

Wilayah ini terkenal sebagai kota metropolitan di masa kini, Hyderabad ternyata juga memiliki kedudukan yang penting di masa lalu. Keberadaan tambang intan dan permata yang legendaris di area Golconda membuat Hyderabad memegang peran penting dalam perputaran ekonomi saat itu.

Tingginya tingkat signifikansi Golconda sebagai salah satu roda utama penggerak ekonomi masyarakat membuat kota Charminar menjadi jantung aktivitas perdagangan di kota Hyderabad.Interaksi dari berbagai lapisan dan background pun teraktualisasi dalam seni arsitektur bangunan Charminar nan epik. Nama kota Charminar sendiri diambil dari nama bangunan Charminar yang kini menjadi ikon Hyderabad.

Bangunan ikonik Charminar berasal dari bahas Urdu, yaitu Chār yang berarti empat dan Minaryang berarti menara. Sebutan tersebut seirama dengan fisik bangunan yang memiliki empat menara itu. Sampai saat ini, masih terjadi perdebatan terkait alasan dibangunnya Charminar.

Salah satu cerita yang berkembang menyebutkan bahwa Charminar dibangun oleh dinasti Quthub Shahi sebagai komomomerasi akan berakhirnya wabah mematikan yang menyebar di Hyderabad kala itu.

‘‘Terlepas dari perdebatan mengenai alasan dibangunnya Charminar, semua sepakat bahwa pembangunan Charminar semakin memperkuat posisi area tersebut di kota Hyderabad sebagai konsentrasi interaksi sosial yang pada akhirnya melahirkan karya seni yang multikultural“, ungkap Anugerah, salah satu mahasiswa Indonesia di Osmania University-India, yang fokus pada studi arkeologi.

‘‘Selain itu Charminar juga dianggap sebagai model terbaik dari gaya arsitektur bangunan di era dinasti Quthub Shahi“, lanjut Anugerah.

Dibangun pada era Islam, Hyderabad menjadi filosofi pemerintahan ditengah pengaruh dari negara-negara luar sebagai akibat dari interaksi ekonomi, sosial, dan budaya. Arsitektur Indo-Islam yang dimiliki oleh Charminar merepresentasikan pengaruh India, Islam, Persia, Asia Tengah, Arab, dan Turki yang berikutnya mempengaruhi bentuk arsitektur bangunan di subkontinen India pada masa kedatangan Islam sekitar abad ke-7.

Gaya arsitektur ini terkenal dengan karakteristik utamanya yaitu kubah serta menara yang menjulang tinggi dan terdapat lengkungan dan area terbuka pada sisi-sisi bangunan. Dari segi ornamen, bangunan Charminar dipengaruhi oleh gaya ornamen Hindu yang didominasi oleh desain floral, sedangkan jam gotik ditengah bangunan ditambahkan kemudian pada tahun 1889 sebagai wujud pengaruh arsitektur gaya Eropa.

Anugrah menjelaskan, bentuk bangunan perseginya yang unik menjadi sentral pertemuan empat direksi membuat Charminar menempati ruang tersendiri bagi masyarakat lokal. Hal ini terlihat nyata pada pembangunan replika Charminar oleh para muslim Hyderabad di Pakistan yang  bermigrasi setelah invasi yang dilakukan India pada kerajaan Nizam di Hyderabad untuk menyatukan wilayah-wilayah di India setelah negeri Barata tersebut merdeka pada tahun 1947. Pembangunan replika itu sendiri dilakukan sebagai pengobat kerinduan terhadap tanah kelahiran.

Setelah pembangunan Charminar di Hyderabad, area tersebut tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan, melainkan juga konsentrasi aktivitas spritual keislaman. Saat ini, kota Charminar telah beralih fungsi sebagai kota tua destinasi wisata. Akan tetapi, hal ini tidak mengubah posisi kota tersebut sebagai pusat kegiatan keagaamaan, terutama Islam, serta pusat ekonomi masyarakat, yaitu dengan keberadaan pasar lokal yang telah ada sejak dulu hingga sekarang.

Sekitar tahun 1960’an, kuil Bhagyalakshmi sebagai tempat pemeluk agama Hindu beribadah didirikan persis di bangunan eksotis Charminar. Hal ini menunjukkan bahwa keharmonisan sosial dan pluralitas telah membudaya, tidak hanya sebelum runtuhnya kerajaan Nizam (dinasti terakhir di Hyderabad), tetapi juga setelah bergabungnya ‘daerah istimewa‘ Hyderabad pada India di tahun 1948.

Lebih lanjut Anugran menjelaskan, seni arsitektur Charminar adalah wujud perpaduan lintas agama, seni, budaya, nilai yang seyogyanya patut menjadi cermin bagi berbagai generasi akan pentingnya toleransi dan interaksi demi menjaga harmoni.

Arif Bachtiar salah seorang wisatawan asal Indonesia mengaku, kunjungannya di India khsusunya Charmier membuat pria ini merasakan atmosfir masa silam ketika menyusuri bangunan tua yang masih berdiri kokoh di kota ini.

‘‘Charminar, ditemani dengan masjid dan pasar tua, serta bangunan-bangunan kuno di sekitar seolah membawa saya kembali ke atmosfer masa lalu,“ ungkapnya.

Begitu mempesonanya Charminar sebagai icon kota Hyberabad. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk mengunjungi Charminar sebagai salah satu destinasi wisata bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke India.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top