Indonesia Perlukan Pakar Teknologi Mengukur Curah Hujan

Pakar Teknologi Mengukur Curah Hujan

Indonesiantoday: Kyoto, Tingginya curah hujan sering kali menjadi penyebab datangnya air bah yang mengakibatkan banjir secara tiba-tiba. Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Sehingga diperlukan, hadirnya seorang pakar teknologi pengukur curah hujan guna mengatasi masalah ini. Demikian disampaikan Wendi Harjupa salah seorang WNI peneliti Weather reader di Kyoto University.

Keseriusan Wendi dalam kajiannya, baru-baru ini telah mengantarkannya dalam anugrah internasional “Best Paper” untuk simposium weather radar dan hydrologi yang diikuti komunitas radar dan hidrologi sejumlah negara maju.

Dalam Papernya Wendi membahas tentang bagaimana memprediksi terjadinya hujan besar dengan waktu yang singkat.

“Dengan nilai curah hujan yang sangat tinggi dalam waktu yang singkat maka kemungkinan terjadinya bencana air bah (flash flood) dan longsor sangat tinggi,” jelas pria asal Sumatera Barat ini.

Dijelaskannya, dengan menggunakan data pengamatan dari satellite awan (satellite himwari-8) kemampuan memantau pertumbuhan awan real time pada satu daerah dapat dilakukan, dengan demikian curah hujan akan dapat diprediksi hingga beberapa waktu kedepan.

“Bahkan terjadinya hujan lebat pada satu daerah akan lebih cepat diprediksi, pada kajian awal ini kita bisa memprediksi 20 menit sebelum terjadinya hujan lebat, dimana jika kita memberi info prediksi tersebut ke masyarakat di daerah rawan bencana longsor dan air bah maka kita bisa menyelamatkan nyawa banyak orang,” pungkas Wendi lebih lanjut.

Dengan diterimanya anugrah paper terbaik, Wendi berencana kedepannya untuk mengembangkan kajiannya, sehingga lokasi-lokasi rawan bencana di Indonesia akan dapat diatasi sedini mungkin.

Kompetisi ini diikuti oleh 14 negara yang berlangsung di (Seoul, Korea selatan) pada (9-13, April 2017). Peserta adalah ahli radar negara maju, seperti, Amerika, Perancis, Swedia, German, Australia, Jepang. Korea. Wendi merupakan satu-satunya WNI yang terlibat dalam Konferensi.

Sementara itu Halimmurahman MT Sebagai Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, LAPAN Bandung sepakat dengan pentingnya penelitian ini dikembangkan. Halim melihat topik kajian yang ditekuni Wendi terkait dengan pemanfaatan teknologi satelit dan radar yang digunakan untuk monitoring dan mendeteksi curah hujan sangat bermanfaat untuk mitigasi bencana hidrometeorologis di Indonesia.

“Topik ini sangat penting untuk Indonesia dan LAPAN, mengingat Indonesia rawan bencana, berharap prestasi ini dapat dicontoh dan menjadi semangat bagi anak bangsa lainnya,” pungkasnya.

Dijelaskannya juga, Indonesia memerlukan ahli yang mampu memberikan pemahaman terkait dinamika atmosfer ekuator. Kondisi atmosfer cuaca ekstrim saat ini makin kerap terjadi di Indoensia. Dengan kehadiran pakar teknologi weather reader, tentunya akan sangat bermanfaat bagi pengembangan model atmosfer Indonesia.

Sedangkan untuk LAPAN, teknologi ini akan memacu pemanfaatan teknologi satelit dan radar untuk kebutuhan nasional sebagai bagian dari amanat UU Keantariksaan No 21 Tahun 2013.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top