Pemerintah Optimis Selesaikan Persoalan Energi dan Sumberdaya Mineral

Pemerintah Optimis Selesaikan Persoalan Energi dan Sumberdaya Mineral

Sumber foto: kbritokyo.jp

Indonesiantoday: Tokyo – Pasca kunjungan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM Ignasius Jonan pekan lalu di Tokyo Jepang, Pemerintah meminta investor Jepang bidang energi dan sumber daya alam segera merealisasikan komitmen kerjasama nya di Indonesia.

Lebih lanjut Menteri ESDM mengatakan, pihaknya telah bertemu dengan Inpex Corporation induk usaha dari Inpex Masela Limited, operator Blok Masela untuk membahas masalah proyek wilayah minyak dan gas bumi yang berlokasi di Laut Arafura, Maluku.

“Sejauh ini Inpex memang belum memulai kajian pra pendefinisian proyek (front end engineering design/FEED) Lapangan Abadi, Blok Masela. Berharap pasca kunjungan ini kerjasama ini dapat direalisasikan, sebelumnya saya sempat ingin menghentikan kerjasama ini karena lambatnya progres pengerjaan nya,” Ungkap Ignasius Jonan usai melakukan kunjungan kerja di Tokyo.

Sejak diubah dari kilang terapung menjadi kilang darat pada akhir Maret 2016, perkembangan proyek Masela belum signifikan. Bahkan, ketika Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berkunjung ke Indonesia pada Januari 2017, belum ada kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan Inpex.

Inpex menguasai 100% saham Blok Masela pada November 1998 melalui penawaran terbuka yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Kemudian Inpex menggandeng Shell dengan kepemilikan saham 35% untuk mengembangkan Lapangan Abadi.

Sementara itu, sekitar 200 WNI ikut hadir menyambut Menteri ESDM di Sekolah Indonesia Jepang. Masyarakat Indonesia yang hadir juga menyampaikan sejumlah pertanyaan terkait masalah listrik dan energi di Tanah air.

Menjawab pertanyaan salah seorang WNI terkait kenaikan tarif dasar listrik Menteri ESDM menjawab, pemerintah tidak menaikkan tarif listrik melainkan mencabut subsidi listrik yang selama ini diberikan kepada masyarakat.

“Penting diketahui bahwa harga listrik tidak naik, tetapi pelanggan listrik rumah tangga 900W dicabut, sedangkan pelanggan listrik 450W tetap disubsidi,” terang Jonan menanggapi pertanyaan WNI yang hadir,.

Merespon pertanyaan peserta terkait pilihan antara listrik murah atau energi ramah lingkungan dari salah satu peserta, Menteri Jonan menjawab bahwa tentunya keduanya sedang diupayakan oleh Pemerintah RI. Namun apabila diharuskan memilih salah satu, Menteri Jonan dengan lugas menjawab tentunya lebih memilih mengedepankan affordability bagi masyarakat.

“Salah satu target pemerintah saat ini adalah untuk menerangi 2500 desa hingga 2019. Pemerintah juga mendorong agar harga listrik dapat semakin bersaing dan menjadi lebih terjangkau, khususnya bagi warga-warga yang kurang mampu,” tutup Jonan.

Dalam kunjungannya kali ini, Menteri Jonan didampingi oleh Utusan Khusus Presiden untuk Investasi dengan Jepang, Rahmat Gobel, Dirjen Ketenagalistrikan Andy Noorsaman Sommeng, dan Wakil Kepala SKK Migas M.I Dzikrullah.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top