Film Indonesia Perjuangan Widji Thukul Tayang di JCC Tunisia

Film Indonesia Perjuangan Widji Thukul
Foto bersama WNI di Tunisia bersama Duta Besar RI untuk Tunisia setelah menonton film Solo Solitude.

Indonesiantoday.id: Tunisia – Perjuangan Widji Thukul memesona publik Tunisia, lewat film Istirahatlah Kata-Kata (Solo Solitude). Film itu menggambarkan sepak terjang Widji, sastrawan dan aktivis HAM yang hilang diculik saat situasi politik Indonesia memanas, pada 27 Juli 1998. Film ini diputar di ajang Journées Cinématographique de Carthage (JCC) ke-28, di Tunis, Tunisia, dari 4 hingga 11 November 2017.

Selama sepekan itu, insan perfilman dunia berkumpul di kota Tunis. Film besutan sutradara Yosep Anggi Prasetya itu masuk dalam screening film yang dipilih panitia JCC. Antusiasme warga Tunisia itu tampak dengan ramainya para penonton selama dua kali pemutaran film tersebut. Bahkan sebelumnya film ini sempat ditayangkan di bioskop CinéMadart Hbib Bourguiba (Monoprix Dermech), Tunisia.

Pada pemutaran kedua 7 November lalu di bioskop Ibn Rachiq, film Solo Solitude menyedot sedikitnya 100 penonton yang memenuhi ruang Theater 1 bioskop Ibn Rachiq yang berada di kawasan Avenue de Paris, Tunis. Selain masyarakat Tunisia, Duta Besar LBBP RI untuk Tunisia, Prof. Dr. Ikrar Nusa Bhakti bersama masyarakat Indonesia ikut serta memenuhi bioskop.

Menurut Lasad Dekhili, salah satu panitia yang menyeleksi film di JCC 2017, film Solo Solitude sarat dengan sejarah peristiwa runtuhnya orde baru di Indonesia, kemasan alur ceritanya dibuat menarik, yang membuat penonton merasa hadir dalam peristiwa kerusuhan 1998 ini. Film ini mengandung sejarah dan dengan pemilihan tema yang sangat kuat.

“Saya melihat ada pesan yang mendalam yang ingin disampaikan sang sutradara, dan kami ingin JCC menjadi tempat untuk memberi support para sineas muda berbakat seperti Anggi. Sekaligus memperkenalkan aktifis Indonesia pada zaman tersebut,” jelas Lasad kepada Indonesiantoday.

Sementara itu, Merita Yenni, Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial Budaya (Pensosbud) KBRI Tunis menjelaskan, film Indonesia ini mewakili salah satu film di Asia. Berharap dengan adanya film Indonesia dalam daftar film yang diputar di JCC tahun ini semakin meningkatkan pengenalan masyarakat Tunisia tentang Indonesia dan meningkatkan minat masyarakat Tunis untuk mengunjungi Indonesia.

“Tentunya kita bangga juga setelah tahun lalu kita menjadi guest of honor, tahun ini film Indonesia solo solitude dipilih dan semoga tahun tahun selanjutnya tetap ada film Indonesia yang dipilih mewakili film Asia dan selanjutnya film Indonesia bisa ikut berkompetisi pada ajang JCC ini”, Jelas Merita kepada Indonesiantoday.

Seorang penonton warga Tunisia yang juga penggemar film bernuansa sejarah, Araibi Asma, mengaku pada awalnya kurang mengerti isi film yang berlatar belakang politik 1998 itu. Namun setelah mendapat penjelasan dari warga Indonesia yang juga ikut menonton ketika itu, barulah dia paham.

“Menurut saya, ini seharusnya menjadi film yang menarik dan layak untuk ditonton jika diawali dengan cerita yang terjadi pada tahun sebelumnya agar memudahkan penonton memahami peristiwa yang dialami Widji sebagai tokoh utama, khususnya bagi orang Tunisia seperti saya yang tidak mengikuti perkembangan politik Indonesia pada saat itu,” jelas Araibi.

Ajang perhelatan industri dan insan perfilman internasional Tunis ini digelar setiap tahun. Dalam acara ini tidak hanya dilakukan pemutaran film, tetapi juga workshop, diskusi, pertunjukan musik, dan pameran yang berkaitan dengan film. Menurut rencana film ini akan tayang untuk ketiga kalinya di akhir pekan sekaligus menutupi ajang perfilman internasional JCC 2017 Tunisia, di bioskop Le Rio di jalan Radhia Haddad, Tunis.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top