Penerbit Yudistira Akui Kesalahan Menuliskan Yerusalem Sebagai Ibu kota Israel

Ibu kota Israel

Indonesiantoday.id: Kuala Lumpur – Komite Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia segera menarik dan merevisi buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas VI SD dari peradaran.

Hardjito Warno selalu Ketua Komite SIKL mengatakan, penarikan buku karangan Sutoyo dan Leo Agung berkaitan dengan kandungan buku yang mencantumkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.

“Undang-Undang Dasar 1945 dengan jelas menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, untuk itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan. Kandungan buku ini sangat bertolak belakang dengan UUD1945, Saya menilai apa yang ditulis dalam buku tersebut mencederai perjuangan Indonesia dalam mendorong kemerdekaan Palestina,” Ujar Hardjito 12/12/17 kepada indonesiantoday.id.

Hardjito menilai kandungan buku ini mencederai upaya yang dilakukan pemerintah RI dalam memperjuangkan Yerusalem sebagai Ibu Kota Palestina dan mendorong perjuangan kemerdekaan negara tersebut.

“Penarikan buku ini penting untuk menghindari kerancuan berpikir dari pelajar sekolah dasar dalam menyikapi siapa sebenarnya yang menjajah Palestina. Dan buku IPS kelas VI tersebut saat ini bisa unggah gratis di Google Play Store.

Merespon aduan Komite SIKL yang disampaikan kepada Atase Pendidikan dan Kebudyaan (Atdikbud) KBRI Kuala Lumpur. Prof Ari Purbayanto Selaku Atdikbud yang bertanggungjawab kepada pelaksanaan belajar mengajar di SIKL berjanji untuk menarik peredaran buku tersebut di SIKL.

“Merespon laporan Komite SIKLhari ini saya akan menghubungi Kepala Sekolah SIKL untuk segera menarik peredaran buku wajib tersebut di SIK,” Tegas Prof Ari.

Lebih lanjut Atdikbud telah meneruskan laporan Komite SIKL kepada Menteri Pendidikan Indonesia di Jakarta. Menurutnya Kemendikbud telah menarik peredaran buku tersebut di pasaran maupun di sekolah.

Penerbit Yudistra hari ini merespon aduan tersebut dengan menuliskan edaran berkenaan kandungan buku IPS kelas IV yang menuliskan ibukota Israel Yerusalem. Pihaknya telah mengakui kesalahan tersebut dan segera merevisi kesalahan ini.

“Data ini diperoleh dari melalui sumber world population data sheet 2010 di internet, kami tidak mengetahui bahwa data tersebut belum di akui dunia internasional dan masih menjadi perdebatan,” ungkap Dedi Hidayat Kepala Penerbit Yudistira.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top