KBRI KL Minta Nelayan Indonesia di Sabah Tingkatkan Keamanan Selama Melaut

Abu Sayyaf
Nelayan Indonesia yang sedang bekerja dengan perusahaan kapal penangkap ikan di Sandakan Malaysia. (Dok. Dewi)

Indonesiantoday.id: Kuala Lumpur – Pasca dilepaskannya dua nelayan Indonesia oleh kelompok Abu Sayyaf Atase Pertahanan KBRI Kuala Lumpur Kolonel. Arm. Iwan Bambang menghimbau nelayan Indonesia di Sabah untuk tetap Waspada selama melakukan aktifitas melaut khususnya di sekitar laut Sulu.

“Saat ini upaya kita adalah berupaya meminimalisir kasus penculikan, dan kepada nelayan kita di Sabah dihimbau untuk tetap waspada,” tegas Iwan.

Di antara upaya yang dilakukan pihak KBRI Kuala Lumpur adalah melakukan pendekatan kepada nelayan dan berusaha memperhatikan kondisi psikologis sehingga nelayan berupaya meningkatkan kewaspadaan selama melaut.

“Kami mengimbau nelayan Indonesia di Sabah mematuhi aturan dan petunjuk otoritas setempat sebelum mereka pergi melaut, dan upayakan untuk menyiasati situasi ini dengan melaut bergerombol. Hasil ikan memang berkurang, tapi keselamatan lebih terjaga,” tambah Iwan.

Hal lain yang perlu diwaspadai adalah untuk tidak memaksakan diri pergi melaut sampai situasi yakin betul aman, nelayan diharapkan untuk aktif mendapatkan informasi keamanan di laut melalui patroli laut keamanan setempat.

Abu Sayyaf
Atase Pertahanan KBRI Kuala Lumpur – Kolonel. Arm Iwan Bambang

Sementara itu, Pasca, serangan yang dilakukan kelompok pemberontak Abu Sayyaf Grup ini, nelayan Indonesia di Malaysia mengalami penurunan. Namun berdasarkan data KBRI Kuala Lumpur, masih terdata sebanyak 800 orang nelayan Indonesia di wilayah Sandakan Sabah, sedangkan di seluruh Sabah mencapai sekitar 3000 orang.

Komunitas nelayan Indonesia di Sandakan Sabah berharap agar pemerintah memperhatikan nasib dan keselamatan nelayan WNI. Diharapkan agar KBRI di Malaysia melakukan koordinasi dengan pemerintah Malaysia dan berupaya untuk menjaga keselamatan nelayan selama bekerja di laut khususnya laut Sulu yang rentan dengan perompak kelompok Abu Sayyaf Grup.

“Sekarang kapal memang sudah ada yang pakai GPS, ini sangat membantu juga dalam meminimalisir serbuan perompak, tapi patroli Malaysia juga banyak minta upeti di laut,” keluh Husaini saat ditemui indonesiantoday.id di pelabuhan 23 Januari 2018.

Saat ini sudah mulai diberlakukan peraturan lapor diri bagi kapal nelayan yang akan melaut. Setelah surat lapor diri didapatkan nahkoda kapal dari petugas gabungan penjagaan wilayah laut Malaysia barulah kapal boleh berlayar.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top