Melirik Aktifitas Masyarakat Muslim Indonesia di Negeri Sakura

Masyarakat Muslim Indonesia
Foto bersama segenap guru, orang tua dan murid di TPA Annisa Shalihah

Indonesiantoday.id: Kyoto – Di Jepang ternyata masyarakat muslim Indonesia sangat aktif dalam berbagai kegiatan Islami. Kyoto Muslim Assosiation (KMA), bersama komunitas inilah masyarakat muslim Indonesia tergabung dan melakukan berbagai kegiatan dengan muslim lain yang berasal dari Jepang maupun dari berbagai negara lainnya.

Salah satu kegiatan lainnya selain KMA adalah Taman Pendidikan Alquran (TPA). Sejarah TPA pertama dibangun oleh Agus dan Fatimah WNI yang sengaja membangun TPA untuk keperluan belajar Alquran anak Indonesia di tahun 2014. Hingga saat ini tercatat sebanyak 65 anak yang mendaftar sebagai siswa dari berbagai golongan usia.

Syadza Fadhila Kepala Sekolah TPA Annisa Shalihah menjelaskan dulunya TPA ini bernama TPA Sakura, dan selain TPA masih banyak lagi kegiatan lainnya yang dirancang untuk memastikan anak-anak muslim khususnya anak muslim Indonesia mendapat lingkungan yang islami di negara minoritas muslim.

“TPA ini dibentuk untuk membantu orang tua muslim di Kyoto mendapat lingkungan yang islami untuk anak-anak mereka diluar jam sekolah, dan kami sama sekali tidak memungut biaya kepada siswa yang ingin belajar mengaji,” jelas Fadhila saat dihubungi Indonesiantoday.id 9/2/18.

Masyarakat Muslim Indonesia

Dijelaskan Fadhila, pada dasarnya bukan WNI saja yang menjadi anggota KMA tetapi juga masyarakat muslim dari berbagai negara lainnya. Saat ini KMA dipimpin oleh Prof. Koshugi, Warga negara Jepang muslim dan Vice Presidentnya berasal dari Indonesia.

Dulunya TPA Annisa Shalihah bernama TPA Sakura, saat itu hanya anak-anak Indonesia yang tinggal di Kyoto dan sekitarnya yang menjadi siswa. Namun saat ini semua anak-anak muslim dari berbagai negara boleh bergabung bersama belajar Al-quran.

“Melalui TPA diharapkan anak-anak muslim mampu dan rajin membaca Al-quran dan,bersemangat untuk menghafal Quran. Dengan demikian diharapkan anak-anak memiliki kemauan yang kuat untuk mengamalkannya secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari,” terang Fadhila.

Selain itu TPA berusaha untuk memfasilitasi anak-anak dapat merasakan bi’ah (lingkungan) islami dan juga menstimulus perkembangan anak dari segi fisik/motorik, sosial,emosional, moral dan spiritual. Diharapkan anak dapat berkembang sesuai yang diajarkan Al Quran dan Hadits.

“Kami juga memberikan kesempatan kepada orangtua agar terlibat secara aktif dalam proses pendidikan agama anaknya khususnya segi aqidah, ibadah dan akhlak yang berkesinambungan berdasarkan Al Quran dan Hadits,” jelas Fadhila lebih lanjut.

Kegiatan yang berlangsung dua kali sebulan setiap akhir pekan ini mendapatkan respon baik dari orang tua khususnya yang berasal dari Indonesia. Semua pengajar yang terlibat sebagai pengajar secara sukarela membagikan ilmu agamanya kepada siswa.

Masyarakat Muslim Indonesia
Salah seorang murid di TPA sedang melihat prakarya di kelas nya

Saat ini kelas TPA di Kyoto dibagi berdasarkan kelompok usia diantaranya; Kelompok Fitrah dengan usia 0-1 tahun, Kelompok Iman I dengan golongan usia 2-3 tahun, Kelompok. Iman II untuk usia 4-6 tahun, Kelompok Adab usia 7-9 tahun dan Kelompok. Ilmu dan Amal untuk usia diatas 9 tahun.

Ika Septya WNI asal Bogor salah satu orang tua siswa di TPA ini mengaku sangat terbantu dengan adanya kelas belajar Quran untuk anak-anaknya. Meski baru bergabung Ika dan keluarganya dengan cepat beradaptasi dengan aktitas keislaman yang diselenggarakan KMA Kyoto.

“TPA ini dikelola oleh ibu-ibu dari Indonesia, peserta pengajian juga anak-anak Indonesia. Setiap semester TPA akan menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan dan mengundang seluruh anak-anak muslim di Kyoto. Desember 2017 lalu ada Kyoto Muslim Kids Matsuri, dan saat itu ramai sekali keluarga muslim yang hadir,” Jelas Ika kepada indonesiantoday.id.

Menurutnya, selalunya saat KMA menyelenggarakan kegiatan, anak-anak dari berbagai negara ikut hadir meramaikan. Diantara masyarakat muslim yang ikut hadir biasanya selain Indonesia juga ada Malaysia, Mesir, Syria dan Bangladesh.

“Anak-anak bersukaria menampilkan berbagai pertunjukan Islami, masyarakat muslim Indonesia dapat beradaptasi dengan baik terhadap culture di Jepang. Alhamdulillah di Kyoto ada Mushola yang dikelola oleh KMA. Di KMA,” tutup ika.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top