WHO Apresiasi Indonesia Dalam Upaya Mengakhiri TBC 2030

Poonam Kathepral
Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, SpM(K), memaparkan perkembangan implementasi New Delhi Call for Actions dalam rangka mengakhiri TBC (ending TB) di Indonesia pada tahun 2030. (Foto: Kemlu RI)

Indonesiantoday.id: New Delhi, India – Direktur Regional WHO South-East Asia Region, Ms. Poonam Kathepral Singh menyatakan WHO mengapresiasi berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam upaya untuk mengakhiri TB pada 2030.

Hal tersebut disampaikan dalam Sesi Perkembangan Delhi Call for Actions on Ending TB in SEARO by 2030, pada End TB Summit dan SEARO High Level Leadership Meeting on Ending TB di New Delhi (13-14/3).

Poonam Kathepral mengapresiasi Pemerintah Indonesia yang telah dianggap on track dalam implementasi New Delhi Call for Action dan berharap Indonesia akan berhasil dalam upaya akhiri TBC pada tahun 2030.

Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, SpM(K), memaparkan perkembangan implementasi New Delhi Call for Actions diselenggarakan dalam rangka upaya mengakhiri TBC (ending TB) di Indonesia pada tahun 2030. Upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia tersebut antara lain pemberdayaan semua sektor yang dicapai dengan menjadikan pencegahan dan pengendalian TB sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Dalam pembangunan nasional terkait TBC tersebut terdapat 12 indikator yang dimonitor langsung pelaksanaannya oleh Presiden RI.

Menteri Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia telah menyediakan anggaran yang terus meningkat untuk menjamin pembiayaan penuh (full funding) untuk mencapai target eliminasi TBC di Indonesia. Pemerintah juga telah meningkatkan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional yang memasukkan di dalamnya adalah layanan TBC, dan saat ini telah mencapai cakupan 74 persen dari jumlah penduduk. Pemerintah juga terus meningkatkan upaya penemuan kasus TBC baru melalui penerapan dan penguatan jejaring layanan TB pemerintah dan swasta berbasis kabupaten/kota.

Poonam Kathepral
Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, SpM(K), memaparkan perkembangan implementasi New Delhi Call for Actions dalam rangka mengakhiri TBC (ending TB) di Indonesia pada tahun 2030. (Foto: Kemlu RI)

Mandatory notification (wajib lapor) bagi semua layanan yang mengobati TBC akan memetakan dan mengurangi masalah kasus TBC yang tidak terlaporkan (under reporting) yang saat ini berdasarkan studi inventori mencapai 60% dari kasus yang diobati. Masuknya TB di dalam Standar Pelayanan Minimum (SPM) sebagaimana pada Peraturan Pemerintah nomor 2 tahun 2018 akan memperkuat regulasi pelaksanaan eliminasi TBC di daerah,” terangnya Menteri Kesehatan lebih lanjut.

Dia mengatakan, Pemerintah melakukan akselerasi penyiapan sarana diagnosis dan pengobatan untuk meningkatkan akses dan mutu yang jauh lebih baik. Penggunaan tes cepat molekuler (TCM) diupayakan tersedia pada setiap kabupaten kota, RS rujukan, balai laboratorium dan puskesmas prioritas.

“Saat ini sudah terpasang dan digunakan sebanyak 515 TCM di seluruh Indonesia. Sedang dilakukan pemasangan sejumlah 425 TCM sampai pada akhir tahun ini. Dalam pengobatan telah diterapkan pengobatan jangka pendek untuk TB resistan obat sejak Agustus 2017 dan desentralisasi pelayanan ke Puskesmas untuk menghasilkan kepatuhan dan akses layanan yang lebih baik bagi pasien,” ujarnya.

Dia menambahkan, Penguatan kepemimpinan program TBC akan meningkatkan pembiayaan bersumber dalam negeri baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Hal ini sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pembiayaan bersumber donor yang pada waktunya akan berakhir.

“Indonesia siap dan mendukung sepenuhnya komitmen percepatan eliminasi serta mengharapkan isu isu penting yang ada di dalam Deklarasi Delhi akan menjadi bagian dari keluaran pada High Level Meeting – United Nation General Assembly on TB,” tambahnya.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top