Konsumsi MSG Menyebabkan Obesitas

konsumsi

Indonesiantoday.id: Thailand – Monosodium glutamat (MSG) sudah banyak dikenal dan digunakan oleh masyarakat Asia, termasuk Indonesia, dalam kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat Indonesia, kurang sedap rasanya kalau makanan tidak menggunakan MSG, atau yang lebih dikenal dengan “micin/mecin”.

Penggunaan MSG pada makanan akan menimbulkan rasa gurih atau umami yang menyebabkan masakan akan terasa lebih sedap. MSG tergolong dalam bahan tambahan makanan yang aman (Generally Recognized as Safe/GRAS). Meskipun demikian, ada banyak isu yang berkembang di masyarakat tentang MSG.

Pemahaman secara umum mengatakan bahwa mengonsumsi MSG dapat menurunkan kecerdasan dan memicu sakit kepala, dan informasi berkembang mengatakan bahwa MSG bermanfaat dalam menurunkan risiko darah tinggi. Terlepas dari perdebatan tentang hal tersebut, ternyata ada satu fakta yang mengejutkan bahwa konsumsi MSG berhubungan dengan obesitas.

Tim peneliti dari Gillings School of Public Health, University of North Carolina at Chapel Hill (2011) mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara tingkat konsumsi MSG dan berat badan.

Dalam penelitian survey Kesehatan dan Gizi di negara China mendapati bahwa konsumsi MSG dalam makanan yang dimakan oleh subjek dalam 24 jam selama 3 hari akan memengaruhi berat badan. Metode dalam penelitian ini dikenal dengan “food recall”.

Selain itu, penelitian ini menimbang berat MSG sebelum dan sesudah food recall selama 3 hari. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi MSG di masyarakat China adalah 2.2 g/orang per hari dan laki-laki mengonsumsi lebih banyak MSG dibanding wanita.

Dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi MSG lebih banyak memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) yang lebih tinggi. Indeks Massa Tubuh merupakan indikator yang digunakan untuk menggambarkan proporsi berat badan terhadap tinggi badan seseorang.

Semakin tinggi IMT maka berat badan yang lebih besar dibanding orang lain dengan tinggi badan yang sama. Hal ini berarti semakin banyak kita mengonsumsi MSG maka risiko obesitas akan semakin besar dan akhirnya akan berdampak pada risiko penyakit lainnya, seperti darah tinggi, diabetes, stroke, dan sebagainya.

Belum ada mekanisme yang jelas tentang efek MSG pada obesitas. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah MSG dapat memicu terjadinya “Leptin resistant”. Leptin merupakan hormon yang diproduksi oleh sel lemak di dalam tubuh.

Pada orang normal, hormon leptin akan meningkat saat kita makan dan peningkatan hormone leptin di dalam darah akan memberikan sinyal “kenyang” kepada otak sehingga kita berhenti makan. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan di dalam tubuh.

Akan tetapi, pada orang dengan leptin resistant, hormone leptin akan meningkat setelah makan namun otak tidak merespon sinyal leptin dengan baik sehingga orang tersebut tidak merasa kenyang dan pada akhirnya meningkatkan konsumsi makanan. Selain itu, rasa umami yang diberikan MSG juga dapat memicu selera makan sehingga memicu orang untuk makan lebih banyak.

Setelah membaca artikel ini mungkin kita akan berpikir lebih jauh lagi tentang penggunaan MSG dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, sesuatu yang berlebihan tidak akan baik. Oleh karena itu, sebaiknya kita lebih bijak dalam memasak agar kita memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Sumber: He, K., Du, S., Xun, P., Sharma, S., Wang, H., Zhai, F., & Popkin, B. (2011). Consumption of monosodium glutamate in relation to incidence of overweight in Chinese adults: China Health and Nutrition Survey (CHNS)–. The American journal of clinical nutrition93(6), 1328-1336.
Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top