Bawang Hitam Indonesia Menggeliat di Pasar Impor

Bawang Hitam

Indonesiantoday.id: Osaka – Produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) asal Indonesia berhasil masuk pasar Internasional dengan nilai transaksi miliaran rupiah. Salah satu produk Indonesia yang terus diminati pasar asing adalah Bawang Hitam atau Black Garlic.

Adalah Intan Anastasia Amsyah, warga Bogor menekuni usaha fermentasi bawang putih ini sejak 2017 silam. Fasilitasi pemerintah dalam berbagai kegiatan pameran produk Indonesia yang bekerja sama dengan berbagai KBRI di sejumlah negara menjadikan pasar Black Garlic semakin mendunia.

“Hingga hari ini kami memperoleh penghasilan 1-2 Miliar rupiah setiap tahunnya. Mayoritas konsumen berasal dari beberapa negara di Asia dan Eropa,” jelas wanita ulet ini.

Menurut Intan, produksi Bawang Hitam menjadi sangat besar peluang pasarnya, usaha ini sangat mungkin dikembangkan mengingat Indonesia sangat kaya dengan bawang putih. Di samping khasiatnya yang dikenal baik untuk kesehatan, Bawang Hitam juga digemari masyarkat luar negara sebagai rempah masakan dan obat.

“Bawang putih dikenal sebagai tanaman anti kanker nomer satu, maka Black Garlic diklaim mempunyai kelebihan 10 kali dari khasiat bawang putih biasa. Begitu juga untuk penyakit lain, di mana khasiatnya diklaim 10 kali lipat dari bawang putih. Bawang Hitam memiliki sifat antioksidan 2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bawang putih tanpa hasil fermentasi,” ujar Intan kepada the Indonesian Today.

Bawang Hitam pada dasarnya adalah fermentasi bawang putih lanang (bawang putih tunggal) yang melibatkan suhu cukup tinggi sekitar 60-80 derajat Celcius dengan kelembapan 70-90% selama 10-40 hari. Hasil fermentasi ini mengubah zat kimia yang ada di dalam bawang putih sehingga warnanya menjadi hitam dan aroma yang berkurang. Namun, tekstur dan rasa menjadi lebih kenyal dan manis.

Bawang Hitam
Intan bersama salah seorang pelanggan Bawang Hitam

Sejak awal membangun usaha ini, Intan memang menargetkan pasar impor untuk produknya. Alasan ini yang menjadikan wanita ini aktif di berbagai forum promosi pameran dan bazar internasional untuk memasarkan produknya. Hingga saat ini, ekspor yang telah dilakukan Intan telah sampai ke Manila, Perancis, Swedia, Moskow.

“Saya bisa memproduksi 500 sampai 1 ton bawang hitam per bulan, dan saat ini sedang mengurus pembelian dengan pihak pembeli di Rusia. Mereka meminta 4 ton per bulan,” tambah Intan.

Meskipun baru berdiri dua tahun, upaya Intan untuk mempromosikan produknya di pasar internasional telah membuahkan hasil. KBRI di negara-negara diplomatik melalui berbagai pameran produk Indonesia sangat banyak membantu. Selama ini, meskipun mengeluarkan biaya sendiri untuk setiap pamerannya, namun KBRI memfasilitasi untuk tempat dan booth-nya.

Bahkan, saat ini, wanita kelahiran 1975 ini sedang mengikui pameran Indonesian Culture di Osaka, Jepang, pada 24-29 Agustus 2019. “Bulan depan rencananya kami akan ke Yunani pada 6-16 September 2019. Dua bulan ini saya ikut pameran di lima negara,” tambahnya.

Untuk menguatkan komitmen dalam usaha ini, Intan aktif mengikuti pelatihan ekspor dan pembinaan untuk Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), sebuah sertifikat internasional untuk menilai keamanan makanan menurut standar WHO yang biasanya menjadi prasyarat untuk ekspor/impor produk pangan.

Saat ini, produksi bawang hitam milik Intan berada di bawah CV Hitara Cipta Selaras yang didirikan olehnya dan beralamat di Cimanggu permai 1 jalan Portibi blok M2 No.7 Kelurahan Kedung Badak, Kecamatan Tanah Sareal, kota Bogor.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top