Film Hayya dengan Genre Kemanusiaan Kasual yang Humoris Ramaikan Film Nasional

Film Hayya

Indonesiantoday.id: Jakarta – Kemampuan humor Ria Ricis akan ramaikan perfileman Indonesia di film Hayya The Power Of Love 2. Hayya (Amna Hasanah) adalah yatim piatu yang kehilangan orang tuanya karena perang dan ketidakpastian masa depan.

Film genre kasual dan humoris ini berhasil menggambarkan suasana kemanusiaan anak-anak korban konflik di Palestina. Kehadiran Ria Ricis di film Hayya akan mengimbangi genre romance dan horror yang begitu digemari pasar film Indonesia.

Ria berperan sebagai Ricis, gadis Malaysia yang berprofesi sebagai babysitter dengan karakternya yang humoris. Meskipun kerap diwarnai Humor, film ini tidak kehilangan pesan orisinalitasnya dalam menggambarkan kesedihan yang diderita warga Palestina.

“Niat yang ingin disampaikan produser film tergambarkan dengan baik sehingga momen-momen kesedihan dan penderitaan anak Palestina yang diperankan Hayya bisa terwakili dalam film ini. Sangat banyak pelajaran barharga yang dipetik saat memerankan film ini,” jelas Ria

Fauzi Badila berperan sebagai jurnalis bersama sahabatnya Adin (Adhin Abdul Hakim). Mereka mengambil tantangan untuk menjadi relawan sekaligus wartawan lepas di daerah bencana, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah kamp pengungsian Palestina.

Menariknya, peran Meyda Safira sebagai Yasna dilakukannya saat wanita kelahiran 20 Mei 1988 itu tengah hamil 6 bulan. Meyda mengaku sempat khawatir hal itu akan mempengaruhi atau terlihat dalam syutingnya. Namun, diakuinya kepiawaian sang sutradara berhasil menutup kekhawatirannya.

Film garapan sutradara Jastis Arimba ini menyajikan suasana konflik Palestina menjadi ringan untuk diterima segala usia khususnya anak muda. Kepada indonesiantoday.id Jastis menjelaskan, syuting film ini dilakukan di Palestina selama sepekan awal januari lalu.

“Untuk menyampaikan pesan di film ini kami sengaja memilih Hebron dan Aqso sebagai lokasi syuting. Tujuannya agar suasana konflik dapat tergambar dan diperankan dengan baik oleh semua pemain. Selebihnya pengambilan scene dilakukan di sebuah pantai di Yogjakarta yang lokasinya memiliki kesamaan,” jelas pria yang sudah terbiasa bekerja sebagai film dokumenter di beberapa stasiun tv berita nasional.

Sejak tahun 2000, beberapa film internasional berhasil menggambarkan perjuangan Palestina, namun sebagian film ini adalah dokumenter. Salah satunya film Promises yang menggambarkan bagaimana konflik Israel-Palestina. Film yang menarik ini masuk ke dalam academy award nominee for best documentary.

“Film Hayya the Movie tayang dengan kepiawaian tokoh menggambarkan konflik palestina yang menekankan pada objek kemanusiaan sebagai korban yang paling menderita dalam peperangan, yaitu anak kecil dan masa depan mereka,”tambah pria yang pernah mendapat anugrah Eagle Awards 2007 ini.

Feel free to share

Similar Articles

Leave a Reply

Top